curious fifu

orang yg sukses adalah mereka yang senantiasa menjaga semangat paginya, orang yang sukses adalah orang senantiasa bangun pagi -__-

Sabtu, 24 Maret 2012

Jangan Mau seribu Mawar “Mawar”

Tulisan ini berhubungan terinspirasi dengan iklan yang lagi ngepop di Televisi, ”Iklan 1000 mawar untuk Mawar”. Populer sekali iklan itu, hampir semua penonton televisi hafal dan ingat. Betapa kerasnya perjuangan sang pemuda dalam iklan tersebut memenuhi keinginan atau syarat yang diberikan oleh orang tua di gadis. Ternyata kisah penolakan ayah sang gadis dan syarat yang diberikannya menginspirasi banyak orang membantu memuluskan keinginan sang pemuda untuk memacari Mawar. Singkat cerita, 1000 mawar berhasil dikumpulkan. Dengan diantar ratusan orang sang pemuda akhirnya dengan senyum kemenangan mendatangi rumah sang gadis menunjukkan 1000 mawar yang berhasil dikumpulkannya. Sang ayah tak mampu berbuat apa-apa dan tampak ekspresi ketidakpercayaan di wajahnya, bagaimana mungkin pemuda ini bisa mengumpulkan 1000 mawar dalam waktu yang cepat, bahkan diantar oleh ratusan orang. Sementara sang Mawar tertawa kegirangan, pacar yang diidamkannya berhasil mengumpulkan 1000 mawar yang disyaratkan bapaknya. Akhirnya “lamaran” berpacaran pemuda diterima Mawar dengan senang hati. Selesailah iklan itu dengan senyum kemenangan pemuda dan ekspresi kepuasan orang-orang yang membantunya. Dan sangat mungkin penonton iklan itu tersenyum melihat adegan-adegan dalam iklan tersebut.
Sebenarnya Iklan ini sungguh luar biasa, mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai perjuangan yang mesti dilakukan untuk meraih setiap yang kita inginkan. Mungkin terinspirasi kisahnya Roro Jonggrang, Sangkuriang dan kisah-kisah semisalnya zaman dahulu. Namun sayang, kisah heroik dari iklan tersebut bukanlah kisah yang dipenuhi dengan nilai-nilai keteladanan yang diajarkan agama. Pemuda tersebut hanya punya komitmen untuk berpacaran, sebuah ikatan semu yang tak ada tuntunannya dalam agama. Kisah cinta yang dipolesi dengan nafsu syahwat dan rayuan-rayuan syaitan. Kisah cinta yang tidak diikat dengan perjanjian yang kuat. Kebanyakan berakhir tragis ke lembah perzinahan. Kisah cinta yang dibumbui dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang tak berkesudahan. Beda ceritanya ketika 1000 mawar yang dikumpulkan itu adalah mahar yang mesti diperjuangkan oleh pemuda untuk memperisti sang wanita. Walaupun saya tak yakin apakah mahar itu mampu bertahan lama…hehe….
Sebagai pemerhati masalah sosial remaja, saya menyarankan kepada mawar di iklan tersebut dan tentunya mawar-mawar yang lain agar menjaga dirinya baik-baiknya. Masak hatimu hanya dihargai dengan 1000 mawar? Terus saya juga menyarankan kepada para mak comblang dalam iklan di atas agar melakukan hal yang lebih heroik dari sekedar memuluskan langkah teman-teman, sahabat dan kenalannya untuk berpacaran menjadi mak comblang yang menjadi jalan menuju jenjang pernikahan. Jangan bantu orang lain bermaksiat, yakinlah engkau akan kecipratan maksiat yang dilakukan orang tersebut.
Terakhir buat mawar, jika suatu saat siap menerima pinangan dari seorang laki-laki kamu bisa buat persyaratan seperti mesti hafal 1000 ayat Al Qur’an, 1000 hadits, dan 1000 kata-kata mutiara. Atau kamu bisa juga mensyaratkan telah membaca 1000 buku, membuat 1000 tulisan, memiliki 1000 impian ke depan, mengerjakan 1000 amalan kebaikan, 1000 dinar emas atau 1000 kambing atau onta. Insya Allah persyaratan mahar seperti ini jauh lebih langgeng dan bermanfaat daripada 1000 mawar yang akan layu dalam waktu sehari dua hari. Selamat mempertimbangkan para mawar, jangan pernah terinspirasi dengan mawar yang di iklan televisi. Karena engkau adalah makhluk mahal yang hanya pantas dijemput oleh pria berkepribadian mahal.
Selamat menjadi mawar yang mahal!  (^_^ ).

Hawa Mengenali Adam: Tulang Rusuk Mengenali Siapa Pemiliknya

“Sejak diturunkan ke bumi, Hawa terus memikirkan Nabi Adam. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sanggup hidup sendirian di bumi ini? Hawa bertekad untuk bertemu Nabi Adam. Hawa terus berjalan menyusuri bumi. Sesekali ia beristirahat sambil makan buah-buahan. Ia terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan Nabi Adam. Hawa tiba di sebuah padang pasir dan bukit yang sangat gersang.  Ia sudah sangat kelelahan dan hampir putus asa. Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Rupanya Allah mengabulkan doanya. Hawa melihat sosok yang sangat ia kenali. Ia adalah Nabi Adam. Hawa memanggil Nabi Adam dan Nabi pun memanggil Hawa dengan penuh kerinduan. Inilah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.”
Ilustrasi (blogspot.com)
Itulah sepenggal kisah tentang pertemuan Adam dan Hawa di bumi dalam buku “Ensiklopedia Kisah Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Mungkin kisah ini pun menggambarkan manusia pada umumnya. Tabiat perempuan yang peduli tergambar jelas dalam penggalan cerita di atas. Hawa terus memikirkan Nabi Adam dan ingin segera bertemu dengan Nabi Adam. Apa alasannya? Ternyata, bukan karena sekadar melepas rindu dirinya pada Adam, tapi lebih memikirkan bagaimana keadaan Nabi Adam sekarang? Apakah Adam sanggup hidup sendiri di bumi? Hawa tak memikirkan dirinya sendiri. Itulah sifat dasar perempuan, ketika memutuskan sesuatu ia selalu mempertimbangkan orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.
Ya, karena Allah menciptakan Hawa untuk menemani Adam ketika di syurga. Allah tahu bahwa Adam tak bisa hidup sendiri. Walaupun dengan kenikmatan-kenikmatan syurga yang telah ia dapatkan, tetap saja seorang Adam membutuhkan teman. Maka, Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menemani Adam di syurga.
Ketika diturunkan ke bumi dan mereka berpisah, maka naluri masing-masing pasti akan saling mencari. Dan dalam pencarian di sini digambarkan secara jelas kekhawatiran Hawa akan kondisi Adam di bumi: sanggupkah Adam hidup sendirian?
Hawa pun terus berusaha menelusuri bumi demi bertemu Adam. Uniknya, di buku ini tak diceritakan bagaimana usaha Adam menemukan Hawa, tapi lebih kepada bagaimana usaha Hawa menemukan Adam. Pastinya tak bisa dipungkiri juga bahwa tentunya Adam pun berusaha keras untuk bertemu dengan Hawa karena di syurga yang penuh kenikmatan saja Adam membutuhkan seorang teman, bagaimana dengan ketika di bumi yang berbeda jauh dari segi kenikmatan di syurga?  Tentu Adam sangat membutuhkan seorang teman terlebih ketika berada di bumi. Dan tentunya ada rasa kehilangan ketika Hawa yang biasanya menemaninya di syurga tak ada di sisinya.
Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam. Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya.
Mungkin akan terlontar pertanyaan begini: “Nabi Adam dan Hawa itu kan cuma dua-duanya manusia di bumi. Jadi ketika bertemu mudah untuk saling mengenali. Lantas bagaimana dengan kita yang jumlah penduduk bumi sudah sekian milyar banyaknya? Bagaimana kita bisa tahu bahwa dialah tulang rusuk kita (bagi laki-laki) atau dialah pemilik tulang rusuk ini (bagi perempuan)?
Di sinilah letak proses ta’aruf itu berperan. Tentunya ta’aruf yang syar’i, bukan sekadar kata ta’aruf namun jauh nilai-nilainya dari sebuah proses ta’aruf. Ta’aruf lah ajang saling mengenal yang [katanya] akan terasakan di sana siapa tulang rusuk atau pemilik tulang rusuk kita.
Mari kutunjukkan kisah dua orang akhwat. Ada seorang akhwat yang merasa klop dengan seorang ikhwan, merasa saling cocok, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk ta’aruf. Dalam proses ta’aruf, ternyata istikharah sang akhwat tak mantap dan ada keraguan di sana. Ta’aruf pun kandas di tengah jalan. Awalnya sebelum ta’aruf, sang akhwat menganggap bahwa ikhwan itulah pemilik tulang rusuknya. Tapi ternyata, setelah ta’aruf, bukan ikhwan itu pemilik tulang rusuknya.
Qadarullah, sang akhwat dipertemukan dengan seorang ikhwan yang belum pernah dikenal dan dipertemukan dalam sebuah proses ta’aruf. Sang akhwat pun mantap, tak ada keraguan sedikit pun dalam istikharahnya. Akhirnya, mereka menikah.
Satu lagi, ada seorang akhwat yang memblacklist seorang ikhwan untuk menjadi calon suaminya karena merasa tidak cocok secara karakter. Namun ternyata sang ikhwan berkeinginan untuk ta’aruf dengan sang akhwat. Awalnya sang akhwat menolak untuk berta’aruf dengan sang ikhwan. Atas nasihat sang guru ngaji dan istikharah beberapa kali, sang akhwat pun mencoba untuk berta’aruf dengan ikhwan yang dimaksud. Hingga akhirnya, mereka menikah.
Terlihat jelas bukan? Bahwa memang hanya sebuah proses ta’aruf yang syar’i-lah yang bisa mendatangkan petunjuk Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjukNYA.
Ada sebuah penggalan dalam artikel yang pernah dibaca:
“Kalau kita tidak mau mencoba ta’aruf, bagaimana mungkin kita tahu ia jodoh kita atau bukan. Kalau kita ta’aruf, kita akan tahu. Jika berhasil, berarti jodoh. Kalau belum berhasil, berarti belum jodoh. Iya, kan?!”
Jadi, memang benar, kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di dunia, kita takkan pernah tahu siapa pemilik tulang rusuk kita (bagi perempuan), atau siapa tulang rusuk kita yang belum ditemukan (bagi laki-laki), sebelum proses ta’aruf. Dari proses ta’aruflah, Allah memberikan petunjukNYA, menunjukkan siapa yang terbaik untuk kita.
So, buat para ikhwan yang sedang merasa seseorang itu sebagai tulang rusukmu, cobalah ta’aruf dulu. Baru kamu bisa bilang kalau dia tulang rusukmu atau bukan setelah proses ta’aruf. Dan tentunya disertai musyawarah dan istikharah. Dua hal inilah yang tak boleh ditinggalkan ketika proses ta’aruf.
Dan buat para akhwat yang berkali-kali gagal dalam proses ta’aruf, yakinlah memang mungkin belum saatnya dipertemukan dengan pemilik tulang rusukmu. Bersabarlah dan teguhkanlah kesabaranmu. Insya Allah semua kan indah pada waktunya.
Pada akhirnya, sebaik-baik jodoh adalah jodoh di akhirat, jodoh yang kekal. Namun sejatinya kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di akhirat. Karena belum tentu jodoh di dunia juga otomatis jodoh di akhirat. Maka yang bisa diikhtiarkan saat ini adalah mencari jodoh di dunia untuk membawanya menjadi jodoh di akhirat pula.
“Ya Allah Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami nikmat di dunia dan juga nikmat di akhirat. Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka…”
Aamiin…