BEM REMA UPI......
Banyak ungkapan yang muncul ketika ditanya tentang kata di atas. Banyak tanggapan yang keluar ketika membahas istilah di atas dan banyak komentar yang ditemui ketika memunculkan kata BEM REMA UPI.
Banyak yang menaggapi dengan nada sinis dan sedikit mencibir sambil mengatakan “apa sih kerja BEM REMA? Sudah menghasilkan apa saja sih kepengurusan BEM REMA kok saya ga pernah merasakannya?” atau ada juga yang memuji “wah hebat ya BEM REMA bisa mengadvokasi banyak mahasiswa. Wah jagoan ya BEM REMA bisa aktif di BEM SI”. Tapi tidak sedikit pula yang apatis dengan BEM REMA “huh BEM REMA kerjanya cuma aksi doang, ga ada hasilnya lagi”. Itulah komentar-komentar yang mungkin sering didengar dari teman-teman kita sesama mahasiswa.
Memang sah-sah saja setiap orang untuk mengungkapkan isi hatinya, tapi sebagai mahasiswa kita pasti bisa menimbang dan menilai mana ungkapan yang asbun (asal bunyi) atau NATO (No Action Talk Only) dan mana perkataan yang sesuai dengan fakta dan data. Benar adanya ungkapan yang mengatakan bahwa tak selamanya pujian itu bermanfaat bagi kita dan tak menjadi suatu keharusan kritikan itu sesuatu yang menghinakan bagi kita. Justru mungkin dengan sedikit kritik atau cacian bisa menjadi bahan introspeksi diri yang dijadikan sebagai batu loncatan agar jauh lebih baik.
Walaupun banyak tanggapan tentang BEM REMA, tetapi disanalah tempatku banyak menimba ilmu dan pengalaman. Banyak hal tak terduga dan mimpiku bisa terwujud. Disanalah diriku belajar tentang kerendahan hati, bahwa menjadi seorang pengurus BEM REMA bukan berarti saya harus bangga dan tinggi, justru kita menjadi seorang pelayan yang harus bisa memberikan service terbaik kepada seluruh masyarakat UPI karena disinilah konsep kecil kenegaraan sedang dibangun. Mungkin hanya di republik mahasiswa konsep egaliter bisa terwujud dimana tak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat.
Pribadi sendiri sebagai salah seorang yang sedikit banyaknya ikut andil dalam perjalanan lika-liku BEM REMA UPI merasakan memang benar banyak hal yang masih kurang optimal disana-sini, tapi jika kita hanya menilai sesuatu dari sisi negatifnya saja tentu hal tesebut bisa menyebabkan kita jalan di tempat atau bahkan mengalami kemunduran. Karena pada dasarnya tidak ada organisasi yang sempurna. Kendatipun seperti itu kita harus tetap berikhtiar menuju kesempurnaan itu.
Terlepas dari hal yang dipaparkan di atas yang penting bagi kita adalah fokus pada amanah yang kita emban, niatkan dalam hati kita untuk ikhlas mengabdi dan memaksimalkan segala potensi yang kita punya untuk senantiasa berkarya. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun anda berada tidak hanya sebatas ketika kita menjadi seorang mahasiswa dengan segudang idealismenya, tetapi juga bisa berlanjut dan menjadi karakter kita untuk selalu menajadi orang yang bermanfaat dan senantiasa mengabdi dan berkarya. Always... forever.
“HIDUP MAHASISWA!!!!!”